9. DAKWAH MELALUI SINETRON “METODE DAKWAH FILM SUNAN KALIJAGA”
ARTIKEL
DAKWAH
MELALUI SINETRON
“METODE
DAKWAH FILM SUNAN KALIJAGA”
Disusun
Oleh kelompok 9:
1. Avriliani
Putri Chaq (212103040021)
2. Muhammad
Nor Rahman (21210304001)
3. Tahta Zhilalir Rahman (211103040021OO)
Problem Riset :
1. Bagaimana
proses Raden Sahid mendapat gelar Sunan pada Film?
2. Apa
yang membuat audien (Pemeran figuran) tertarik mendengar dakwah Sunan Kalijaga
Pada Film?
3. Metode
dakwah apa yang digunakan film Sunan Kalijaga?
A. PROSES RADEN SAHID MENDAPAT GELAR SUNAN PADA FILM
Raden
Sahid itulah putra dari Adipati Tuban yang kita kenal sebagai Sunan Kalijaga.
Raden Sahid mengambil segumpal beras secara diam-diam untuk diberikan kepada
fakir miskin yang kebetulan adalah rakyat yang dipimpin oleh Ayahnya. Karena
Raden Sahid kasihan melihat banyak rakyat yang sengsara, ia melanjutkan aksinya
dan mengambil lebih banyak lagi. Suatu Ketika, ia ketahuan melakukan aksinya
itu dan didapati oleh ibunya sendiri. Mengetahui hal itu, ibu Raden sahid pun
marah dan mengusir Raden sahid pada saat yang sama. Setelah itu Raden Sahid berkelana
hingga ia mendapat sebuah bisikan yang menyeru untuk mencari sebuah tongkat
bertangkai emas. Kemudian disuatu tempat ia bertemu oleh seseorang yang
berjalan menuruni bukit dan ia menyapa orang tersebut dengan salam yang
kemudian ia bertanya tentang tongkat itu. Melihat itu ia mencoba merampas tongkat
emas yang ada di tangan orang itu. Setelah itu orang itupun tersungkur dan
menangis diwaktu yang sama. Raden sahid pun
bertanya pada orang itu mengapa ia menangis. Orang itupun menjawab,
bahwa ia menangis bukan karena tongkat itu tapi karena ia mencabut nyawa rumput
dan merasa menjadi pembunuh. Setelah itu raden sahid mengembalikan tongkat
seorang tersebut. Seorang itu berkata kepada Raden Sahid kalua ia akan memberi
yang lebih banyak dari sekedar tongkat bertangkai emas itu. Pada saat yang sama
orang itu mngarahkan tongkatnya dan menunjuk sebuah pohon dan dengan kuasa
Allah, daun dan buah yang ada dipohon tersebut berubah menjadi emas. Raden
Sahid bergegas kearah pohon tersebut dan meninggalkan orang itu tanpa sepatah
kata apapun. Setelah itu orang tersebut pergi dan meninggalkan Raden Sahid yang
sedang takjub.
Akan
tetapi ketika Raden Sahid menggoyang pohon itu, tiba-tiba buah dari pohon itu
jatuh dan menimpa Raden Sahid hingga pingsan. Setelah sadar ia pun tidak
mengambil emas itu tetapi mengejar orang itu dan dia merasa bukan itu yang ia
butuhkan, melainkan menjadikan orang tersebut gurunya yang bukan lain adalah
Sunan Bonang. Ia mencari dan pada suatu saat setelah pencariannya, ia bertemu
dengan Sunan Bonang dipinggir kali dan meminta izin untuk menimbah ilmu darinya.
Sunan Bonang menjawab seandaikan air laut di jadikan tinta dan daun-daun di
jadikan buku, belom cukup menulis ilmu-ilmunya Allah. Raden Sahid pun memaksa
dan Sunan Bonang pun menjawab iya menerimanya. Setelah itu Sunan Bonang menancapkan
tongkatnya dipinggir kali dan mengatakan bahwa Raden Sahid disuruh menunggunya
hingga ia Kembali. Raden Sahid pun menjaga tongkat itu hingga beberapa tahun,
ada yang mengatakan 44 tahun. Wajah dan tubuhnya dikelilingi lumut-lumut. Hingga
suatu saat Sunan Bonang pun mendatangi Raden Sahid yang menjaga tongkatnya dan
mengucapkan salam kepada Raden Sahid dan tidak ada jawaban. Setelah itu Sunan
Bonang iqomah di telinga Raden Sahid yang akhirnya terbangun dari tidur
panjangnya. Setelah itu ia belajar dan menimbah ilmu kepada Sunan Bonang. Pada
Suatu ketika Ia diberi kitab oleh Sunan Bonang dan mengatakan bahwa Raden Sahid
sudah dipercaya keilmuan nya dan terkenal dengan panggilan Kalijaga yang
berarti penjaga kali. Setelah itulah Raden Sahid mendapatkan gelar Sunan dan
derajat yang tinggi dihadapan Allah.
Bukan karena tongkatnya atau kalinya Raden Sahid mendapat gelar tinggi
di sisi Allah tapi karena Raden Sahid Samikna Waatokna kepada gurunya.
B. APA YANG MEMBUAT AUDIEN TERTARIK MENDENGAR DAKWAH
SUNAN KALIJAGA PADA FILM
Sunan
Kalijaga dalam melakukan dakwah secara luwes karena masyarakat Jawa saat itu
masih menganut kepercayaan lama. Sunan Kalijaga mendekatkan diri ke dalam
masyarakat yang masih awam. Selain itu, Sunan Kalijaga mengenakan pakaian adat
Jawa setiap hari dengan menggabungkan unsur Islam. Terdapat alasan Sunan
Kalijaga menggunakan pakaian tersebut dikarena apabila mengenakan jubah
dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa takut masyarakat dan merasa enggan untuk
menerima kedatangannya. Salah satu hal yang dapat dikatakan unik ketika Sunan
Kalijaga merebut simpati masyarakat terlebih dahulu agar mau menerima agama
Islam. Selanjutnya, beliau menjelaskan kepada masyarakat mengenai agama Islam
dan menasehati untuk meninggalkan adat dan kebiasaan yang bertentangan dengan
ajaran Islam. Akan tetapi, kebudayaan dan kesenian yang sekiranya dapat
ditanamkan unsur ajaran Islam akan dipertahankan serta digunakan sebagai media
dakwah oleh Sunan Kalijaga. Berbagai media dakwah yang digunakan, yaitu
gamelan, gendhing, tembang, wayang, grebeg, suluk, tata kota, selamatan,
kenduri, dan upacara tradisional. Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga kerap memakai
nama samaran, seperti “Ki Dalang” karena kemampuan beliau dalam mengajarkan
Islam kepada masyarakat melalui pertunjukan kebudayaan dan kesenian.
Wayang
Sunan Kalijaga menggunakan wayang
sebagai salah satu media dakwahnya. Beliau mengenalkan Islam melalui
pertunjukan wayang yang sangat digemari masyarakat. Pada saat beliau berdakwah
agama Islam sebagai dalang yang berkeliling di wilayah Pajajaran hingga
Majapahit. Tidak hanya sebagai dalang wayang saja, beliau juga menjadi dalang
pantun. Apabila ada masyarakat yang ingin mengadakan pertunjukan wayang, maka Sunan
Kalijaga tidak memungut uang melainkan cukup membaca dua kalimat syahadat, dan
menyebabkan Islam dapat berkembang dengan cepat. Di dalam pertunjukan wayang,
lakon yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga tidak hanya mengangkat kisah
Mahabarata dan Ramayana, terdapat pula lakon yang digemari oleh masyarakat
yaitu Dewa Ruci. Lakon Dewa Ruci ini menjadi bentuk pengembangan dari lakon
Nawa Ruci. Lakon Dewa Ruci ini mengisahkan Bima yang merupakan salah satu
Pandawa saat mencari kebenaran melalui bimbingan Begawan Drona hingga Bima
bertemu dengan Dewa Ruci. Selain lakon Dewa Ruci, Sunan Kalijaga juga
memunculkan tokoh-tokoh wayang seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang
telah diselusupi ajaran-ajaran Islam. Dalam menjadi dalang, Sunan Kalijaga
memaparkan ajaran tasawuf saat memainkan wayang terutama saat lakon Dewa Ruci.
Hal ini menyebabkan masyarakat dari seluruh lapisan menjadi senang. Saat
pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga memodifikasi bentuk wayang, sebelumnya
berbentuk gambar manusia menjadi gambar dekoratif dengan bentuk tubuh yang
tidak mirip dengan manusia. Penggunaan pertunjukan wayang sebagai media dakwah
penyebaran Islam oleh Sunan Kalijaga. Hal tersebut menunjukkan keahlian beliau
dalam memadukan unsur ajaran Islam dengan unsur budaya masyarakat Jawa. Oleh
karea itu, kebudayaan dan kesenian merupakan sesuatu yang tidak dapat lepas
dari masyarakat.
Selain lakon Dewa Ruci dan
Punakawan, Sunan Kalijaga juga memasukan ajaran Islam pada tokoh Yudistira dan
Bima. Seperti yang dikisahkan dalam lakon Yudistira mendapatkan azimat
Kalimasada karena tidak mau berperang.
Azimat ini berguna untuk melindungi diri sendiri, menjauhkan musuh, dan
memelihara stabilitas pemerintahan kerajaan. Azimat Kalimasada merupakan sebuah
teks yang dapat bertahan lama dan merupakan kalimat syahadat. Oleh karena itu,
Yudistira meninggal dalam keadaan Islam. Kalimat “Kalimasada” berasal dari
kalimat Syahada yang artinya “yang bersaksi”. Dalam lakon Bima digambarkan
seperti shalat. Hal ini disebabkan karena dalam cerita Hindu Bima digambarkan
sebagai sosok yang kuat, sedangkan shalat merupakan tiang agama yang artinya
tanpa shalat agama dari seseorang runtuh. Sementara itu, Arjuna dilambangkan
sebagai puasa, Nakula, dan Sadewa dilambangkan sebagai zakat dan haji.
Berdasarkan pelambangan tersebut, Sunan Kalijaga telah menggambarkan masyarakat
Jawa mengenai badan manusia dengan wayang. Hal ini dapat diartikan tradisi
wayang kulit yang dipertunjukkan dianggap sama seperti kehidupan. Dalam ajaran
Islam Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita untuk tidak melihat seseorang
dari luarnya saja.
Gamelan
Gamelan digunakan sebagai media
dakwah oleh Sunan Kalijaga ketika pertunjukan dan acara lainnya. Dalam
pertunjukan wayang, ketukan gamelan sudah digubah Sunan Kalijaga agar iramanya
sesuai dengan lakon yang akan dimainkan. Selain digunakan dalam pertunjukan
wayang, gamelan digunakan untuk mengundang masyarakat agar datang ke masjid.
Gamelan juga digunakan saat acara Grebeg dan Sekaten yang bertujuan untuk
mengundang banyak perhatian dari masyarakat.
Tembang
Selain menggunakan wayang dan
gamelan, Sunan Kalijaga dalam berdakwah juga menggunakan tembang-tembang yang
merupakan kebudayaan dan kesenian dari masyarakat Jawa. Tembang-tembang yang
digubah oleh Sunan Kalijaga seperti tembang Rumekso Ing Wengi dan tembang
Ilir-ilir. Dalam tembang Rumekso Ing Wengi ini melambangkan doa saat malam hari
setelah melaksanakan shalat tahajud. Doa yang dipanjatkan bertujuan meminta
agar senantiasa dihindarkan dari gangguan negatif, serta dalam gaya bahasa sesuai
dengan pikiran masyarakat Jawa. Hal yang disampaikan dalam tembang Rumekso Ing
Wengi dapat menusuk hati pembacanya. Tembang ini disusun Sunan Kalijaga
dikarenakan masyarakat Jawa masih kesulitan dalam menghafal dan melafalkan doa
berbahasa Arab. Selain tembang Rumekso Ing Wengi, terdapat juga tembang
Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul yang menggambarkan keagungan ajaran Islam dan
mengandung nasihat-nasihat kehidupan.
Grebeg dan Sekaten
Grebeg berasal dari kata gumrebeg
yang artinya “riuh” atau “rame”, jika dipahami menjadi “keramaian” dan berujung
perayaan. Hal ini sering dijumpai saat acara grebeg terdapat konvoi barisan
prajurit yang membawa gunungan disertai dengan iringan gamelan. Sekaten berasal
dari kata sekati yang artinya “nama dua alat gamelan”. Sekaten merupakan bagian
dari serangkaian acara grebeg yang merupakan gagasan Walisongo dalam
menggabungkan kebudayaan masyarakat Jawa dengan ajaran Islam. Hal ini
dikarenakan grebeg dan sekaten merupakan kebudayaan yang sudah ada sejak
kerajaan Hindu Budha.
Ide untuk menggabungkan kebudayaan
grebeg dan sekaten dengan ajaran Islam muncul saat Sunan Kalijaga mencoba
menarik masyarakat datang ke masjid dan bertepatan dengan peringatan Maulid
Nabi Muhammad Saw. Sunan Kalijaga memiliki inisiatif untuk menggabungkan unsur
kebudayaan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Lalu menggunakan
gamelan dan tari-tarian di lingkungan kraton untuk meramaikan pelaksanaan
Grebeg Maulid. Seperangkat gamelan diletakkan dihalaman masjid untuk ditabuh
agar menarik perhatian masyarakat. Komplek masjid dihiasi dengan pernak-pernik
menarik yang mengundang masyarakat datang ke komplek masjid Demak. Awalnya
masyarakat maerasa malu untuk datang, perlahan-lahan mulai berdatangan dengan
melewati gapura dan dituntun untuk mengucapkan kalimat syahadat. Selanjutnya
masyarakat akan diajarkan dan dituntun cara berwudhu dengan baik. Selain Grebeg
Maulid, terdapat juga Grebeg Syawal yang diselenggarakan saat hari raya Idul
Fitri dan Grebeg Besar saat hari raya Idul Adha. Saat perayaan Grebeg dan
Sekaten juga terdapat Gunungan. Gunungan ini dimaknai sebagai lambang
kemakmuran dan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan. Gunungan ini akan dibagikan
kepada masyarakat. Penggunaan Grebeg dan Sekaten sebagai media dakwah Islam ini
menuai sukses besar dan masyarakat ikut menyukainya.
C. METODE YANG DIGUNAKAN FILM SUNAN KALIJAGA
Film
ini menunjukkan bagaimana gambaran perjalanan Raden Sahid dari kecil hingga ia
menjadi seorang yang siap berdakwah dengan berbagai tantangan yang harus
dilalui. Metode dakwah dari film Sunan Kalijaga adalah metode tidak
langsung, karena jelas dakwah melalui film tidak secara langsung seorang da’I
berhadapan dengan mad’u nya. Begitu pula dalam film-nya, Sunan Kalijaga
berdakwah dengan perantara wayang dan mewarnai budaya perwayangan pada kala itu
dengan warna Islam. Metode Objective Illustration juga ada dari film
ini, karena dalam film menyajikan adegan-adegan tentang kisah perjalanan Raden
Sahid mendapat gelar Sunan Kalijaga. Karena menampilkan bagaimana Raden Sahid
mendapatkan gelar Sunan sehingga dia dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Waktu
berlalu dengan cepat, hingga Sunan Kalijaga mulai menggabungkan kebudayaan yang ada di daerah
tersebut dengan ajaran agama islam dengan tanpa paksaan dan tetap berpegang
teguh pada al qur'an dan sunnah. Serta penjabaran materi dakwah yang ada pula
menggunakan bahasa daerah yang mudah dipahami oleh warga di daerah tersebut.
Dengan
adanya perkembangan zaman yang begitu cepat, metode visual atau film ini sangat
mudah dipahami oleh penontonnya yang jelas adalah target dakwah nya.
Menceritakan bagaimana islam berkembang di tanah jawa serta bagaimana
percampuran budaya dengan ajaran agama islam di tanah jawa. Menurut Hamzah
Ya'qub Metode audio visual adalah metode yang berbentuk gambar hidup yang dapat
didengar sekaligus dilihat, seperti televisi, film, video, dan sebagainya.
Menurut kami metode ini sudah sesuai dengan apa yang ada pada film sunan
kalijaga. Karena pada film ini banyak pesan dakwah yang terkandung di dalamnya.
Jika kita pahami secara keseluruhan film, pesan dakwah pada film ini adalah
gambaran dakwah Sunan Kalijaga yang terjadi pada zaman itu.
D. KESIMPULAN
Raden
Sahid itulah putra dari Adipati Tuban yang kita kenal sebagai Sunan Kalijaga.
Raden Sahid mendapatkan gelar Sunan dan derajat yang tinggi dihadapan Allah
bukan karena tongkatnya atau kali yang dijaganya akan tetapi, Raden Sahid
mendapat gelar tinggi di sisi Allah tapi karena Raden Sahid Samikna Wa’atokna
kepada gurunya. Sunan Kalijaga dalam melakukan dakwah secara luwes karena
masyarakat Jawa saat itu masih menganut kepercayaan lama. Sunan Kalijaga
mendekatkan diri ke dalam masyarakat yang masih awam. Berbagai media dakwah
yang digunakan, yaitu gamelan, gendhing, tembang, wayang, grebeg, suluk, tata
kota, selamatan, kenduri, dan upacara tradisional. Tidak hanya itu, Sunan
Kalijaga kerap memakai nama samaran, seperti “Ki Dalang” karena kemampuan
beliau dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat melalui pertunjukan kebudayaan
dan kesenian. Metode dakwah dari film Sunan Kalijaga adalah metode tidak
langsung, karena jelas dakwah melalui film tidak secara langsung seorang da’I
berhadapan dengan mad’u nya. Begitu pula dalam film-nya, Sunan Kalijaga
berdakwah dengan perantara wayang dan mewarnai budaya perwayangan pada kala itu
dengan warna Islam. Metode Objective Illustration juga ada dari film
ini, karena dalam film menyajikan adegan-adegan tentang kisah perjalanan Raden
Sahid mendapat gelar Sunan Kalijaga. Serta penjabaran materi dakwah yang ada
dalam di film juga menggunakan bahasa daerah yang mudah dipahami oleh warga di
daerah tersebut. Pada film ini banyak pesan dakwah yang terkandung di dalamnya.
Jika kita pahami secara keseluruhan film, pesan dakwah pada film ini adalah
gambaran dakwah Sunan Kalijaga yang terjadi pada zaman itu.
Daftar
Pustaka
https://www.youtube.com/watch?v=tFFBOQyaqho
Komentar
Posting Komentar