7. MEWUJUDKAN MASYARAKAT MARJINAL YANG BERDAYA DALAM ASPEK EKONOMI DAN SPIRITUAL

MEWUJUDKAN MASYARAKAT MARJINAL YANG BERDAYA DALAM ASPEK EKONOMI DAN SPIRITUAL

(Studi Kasus Kota Jember)

Oleh:

Luluk Zumrotin Nisa’ (212103040002)

Dodik Afandi (211103040029)

 

 

Abstrak: “Dakwah dan masyarakat marginal” tidak boleh dipisahkan, melalui hal ini output yang diharapkan yakni terwujudnya masyarakat Islam yang berdaya dari segala aspek. Sebab, dakwah adalah tugas mulia bagi para da’i untuk menjadikan manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat termasuk masyarakat marginal. Karena memang sejatinya memang seorang penda’i dituntut agar bisa menarik perhatian dan mampu meyakinkan masyarakat untuk bisa menjadi alternatif dalam penyelesaian problematika ditengah masyarakat. Artikel ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur dilakukan berdasarkan kajian dari beberapa literatur seperti buku dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan dakwah dan masyarakat marginal. Kemudian, studi lapangan dilakukan dengan mengumpulkan data lapangan melalui teknik observasi dan wawancara langsung. Kajian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi para ilmuwan dan praktisi dakwah, agen pemberdayaan, lembaga-lembaga keagamaan dan lembaga-lembaga sosial lainnya untuk memberdayakan masyarakat marginal secara maksimal dan berkesinambungan.

Kata Kunci: Dakwah, Komunitas, Marginal

 

Masyarakat marginal merupakan kumpulan masyarakat yang terpinggirkan

terutama sekali dari aspek ekonomi yang disebabkan oleh berbagai faktor di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut menyebabkan mereka tidak bisa mendapatkan peluang kerja, modal usaha yang memadai dan tidak mendapatkan akses serta segala bentuk kemajuan manusia modern secara merata. Mereka seringkali terpinggirkan dari segala bentuk kebijakan pembangunan dan sangat jauh dari kata

“layak” dalam memperoleh hak-hak mereka. Masyarakat marginal seperti gelandangan, pemulung, pengemis dan banyak lagi masyarakat marginal lainnya yang masih berjuang keras melawan penderitaan, kelaparan, ketidakadilan dan diskriminasi dalam kehidupan. Dengan demikian, masyarakat marginal sangat membutuhkan perhatian khusus dari semua pihak, termasuk da’i. Kegiatan dakwah seorang da’i tentu tidak efektif jika dilakukan hanya melalui ceramah di tempat ibadah seperti masjid ataupun ceramah melalui media massa seperti televisi dan radio.

Dakwah juga tidak tepat jika hanya membahas persoalan ukhrawi (akhirat) semata, sementara kaum marginal sebagai objek dakwah sedang kelaparan dan tersisih secara duniawi. Oleh sebab itu, kegiatan dakwah seorang da’i kurang efektif jika hanya dilakukan dengan menggunakan satu atau dua pendekatan saja, melainkan berbagai bentuk pendekatan dakwah mesti dilakukan untuk memberdayakan masyarakat marginal secara utuh. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat marginal tidak lagi tersisih, terdiskriminasi dan terpinggirkan dalam kehidupan mereka.

Per 6 september 2022 kemarin, peneliti telah melakukan study kasus didaerah sekitar Jember Roxy Square sampai dengan Lippo Plaza Jember. Masyarakat marginal yang didominasi dari pengemis dan pemulung banyak kami temui, beberapa dari mereka mengakui bahwa menjadi pengemis dan pemulung adalah ikhitar mereka untuk bertahan hidup.

“pendapatan dari mulung ini sehari mungkin hanya 20ribu yang saya dapat, hanya hal ini yang dapat saya kerjaan untuk bisa bertahan hidup. Selain tidak membutuhkan ijazah pekerjaan ini yang paling mudah untuk saya kerjakan, karena memang sudah terbiasa juga. Mau beribadah juga pakaian saya lusuh dan tentunya malu untuk masuk ke masjid”

Kemudian melalui pengamatan dan hasil wawancara ini, dapat dianalisis bahwa fenomena tersebut tentu terjadi karena mereka terlalu sibuk dengan usaha mereka untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Ditambah lagi, belum adanya peran praktisi dan ilmuwan dakwah dalam menarik perhatian pengemis tersebut untuk menjadikan mereka berdaya pada aspek ekonomi dan spiritual. Dari fenomena ini dapat diketahui bahwa mereka sebagai masyarakat marginal telah berusaha mencari sendiri alternatif hidup yang dianggap mudah dan menjanjikan untuk memenuhi kehidupan ekonomi mereka. Bahkan ada yang karena tidak mau susah-susah dalam memenuhi kebutuhan hidup, mereka rela jadi pengemis. Padahal mereka mampu berusaha sendiri dan bekerja keras selain menjadi pengemis. Berbeda dengan pemulung yang lebih memilih hidup untuk mengais sampah meskipun itu pekerjaan berat dan kotor. Pemulung dan pengemis bekerja selama satu hari penuh dan sibuk dengan pekerjaan mereka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sementara, sepanjang pengamatan yang telah penulis lakukan, mereka tidak pernah datang dan masuk ke masjid untuk mendengarkan ceramah agama. Kebanyakan diantara mereka hanya mendengarkan ceramah agama di luar masjid saja. Itupun hanya sambil memulung dan mengemis di dekat masjid. Hal ini tentu karena mereka terlalu sibuk bekerja untuk mengisi perut mereka. Ditambah lagi, sampai saat sekarang belum adanya peran praktisi dan ilmuwan dakwah dalam menarik perhatian mereka untuk menjadikan mereka benar benar berdaya pada aspek ekonomi dan spiritual.

            Tetapi kemudian dari sekian banyak pengemis juga pemulung yang penulis temui, ada salah seorang dari mereka yang menarik perhatian kami.



 

      

 

Gambar diatas kami ambil di sepanjang jalan depan Lippo Plaza Jember. Dari gambar tersebut, dapat kita lihat bahwasannya salah seorang dari golongan masyarakat marjinal sedang melakukan ibadah di atas trotoar dipinggiran jalan. Kenyamanan untuk melaksanakan ibadah tidak dapat mereka rasakan. Yang seharusnya mereka dapat melaksanakan ibadah mengaji al-quran di masjid maupun rumah dengan nyaman, tetapi ini sebaliknya.

            Berdasarkan fenomena masyarakat marginal yang telah penulis uraikan sebelumnya, maka kegiatan dakwah tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan satu atau dua pendekatan saja, melainkan berbagai bentuk pendekatan dakwah mesti dilakukan oleh para da’i untuk memberdayakan kaum marginal tersebut. Salah satu contoh dalam kegiatan pemberdayaan tersebut yaitu melalui kerjasama lembaga dan organisasi dakwah dengan instansi pemerintah maupun swasta, seperti bekerjasama dengan dinas sosial, BAZNAS dan lembaga sosial lainnya dalam memberdayakan seluruh aspek kehidupan masyarakat marginal seperti aspek ekonomi, spiritual, intelektual dan aspek sosial masyarakat marginal. Lebih lanjut, pemberdayaan aspek ekonomi masyarakat marginal dapat

dilakukan dengan cara memberikan modal usaha dan pelatihan-pelatihan khusus terkait dengan usaha yang akan dikembangkan oleh masyarakat marginal. Kemudian, pemberdayaan aspek spiritual, intelektual dan aspek sosial mereka dapat diwujudkan melalui kegiatan dakwah bil-lisan seperti ceramah agama, bimbingan rohani, diskusi personal dan sebagainya dengan tujuan agar mereka tidak menjadi manusia yang hanya mementingkan kehidupan ekonomi semata.

            Kemudian, hal yang sangat penting diperhatikan oleh da’i, bahwa masyarakat marginal sangat dekat dengan kemiskinan. Da’i yang bijak harus mencari tahu penyebab suatu masyarakat menjadi miskin terutama masyarakat marginal. Di samping itu, kegiatan dakwah harus dilakukan secara berkesinambungan dan betul-betul diperjuangkan oleh para da’i untuk memberdayakan masyarakat marginal. Dakwah yang da’i lakukan mesti diperjuangkan untuk mewujudkan cintanya kepada Allah, dengan cara memfasilitasi pemberdayaan masyarakat marginal tanpa menggarap keuntungan pribadi dari kegiatan tersebut, dengan tujuan untuk mewujudkan tujuan dari dakwah sendiri yakni mesejahterakan umat.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

11. ANALISIS LIRIK LAGU “CARI BERKAH” KARYA WALI BAND

5. Strategi imam dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas jama’ah di masjid As-salam Perumahan Pesona Surya Milenia

12. MENGAMATI RESPON NETIZEN TERHADAP DAKWAH YANG DILAKUKAN OLEH AKUN NU OLINE DI PLATFORM TIK TOK