6. PERBEDAAN KHUTBAH SHOLAT JUM’AT PADA RUANG LINGKUP PERKOTAAN DAN PEDESAAN
PERBEDAAN KHUTBAH SHOLAT JUM’AT PADA RUANG LINGKUP PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Dzikri Novan Tri Anggara (211103040026)
Emira Konstitusiana Ghozaly (212103040013)
Prodi : Manajemen Dakwah
Fakultas : Dakwah
Abstrak
Gaya
hidup kota dan gaya hidup pedesaan adalah dua jenis kehidupan yang berbeda.
Meskipun, kedua jenis kehidupan ini berbeda satu sama lain berdasarkan
lingkungan, kesempatan kerja, dan biaya hidup mereka juga memiliki ciri-ciri
serupa seperti rutinitas sehari-hari, nilai-nilai dan orang-orang yang tinggal
dan bekerja. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pertama, pengembangan metode dakwah dilingkungan
pedesaan dan di lingkungan perkotaan. Kedua, perbandingan kelebihan dan
kekurangan pengembangan metode dakwah yang dilakukan antara perkotaan dan
pedesaan, Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan
pendekatan penelitian yang dilakukan berdasarkan paradigma, strategi, dan
implementasi secara kualitatif. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu suatu
penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada di dalam
kehidupan sehari-hari berdasarkan data-data, menganalisis dan menginterpretasi. Proses pengumpulan
data menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi dalam bentuk mini
riset. Analisa penelitian ini menggunakan kaidah analisa kualitatif. juga bisa bersifat komperatif dan
korelatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemecahan masalah secara
sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket untuk mengukur pendapat
masyarakat mengenai masalah ini. Kemudian mengolah data tersebut untuk
dianalisis secara langsung, yaitu peneliti langsung menganalisis data yang
telah terkumpul mengenai eksistensi dan problematika yang ada di masyarakat
mengenai metode pengembangan dakwah serta teori-teori yang berhubungan dengan hal terkait
Kata kunci : metode
dakwah, khutbah, masjid, perkotaan, pedesaan
Pendahuluan
Dakwah memiliki makna sebagai upaya menyampaikan ajaran
yang diyakini kebenarannya tentang hakikat hidup serta perilaku hidup yang
semestinya dilakukan sejalan dengan ajaran Islam yang telah disampaikan oleh
Rasulullah Saw. dan diestafet oleh para sahabat, tabi’in, atba’uttabi’in serta
para ulama yang sampai saat ini masih melaksanakan dakwah baik secara lisan
maupun perilaku tauladan (bil-hal). Sebenarnya apabila kita
fahami bersama bahwa peran dakwah ini merupakan kewajiban setiap muslim
dimanapun berada dengan melepaskan kedudukan serta jabatan yang ia emban.
Adapun pesantren dan kyainya adalah institusi yang memiliki peran sebagai salah
satu sumber informasi tentang kebenaran ajaran. Karena itulah kemudian para
santrinya berkewajiban menjadi mediator untuk melanjutkan dan menyebarkan
ilmunya menjadi suatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Dengan demikian
keberadaan pesantren sebenarnya memiliki peran penting untuk tetap menjaga keberadaan
agama, ilmu serta amal setiap manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah
Swt
Pembahasan
Pengertian Dakwah
Kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang
berarti menyeru, memanggil, mengajak. Penyebutan kata dakwah dalam Alquran yang
lebih banyak ditampilkan dalam bentuk kta kerja (fiil), hal ini memberikan
isyarat bahwa kegiatan dakwah perlu dikerjakan secara dinamis, serius,
sistematis, terencana, profesional dan proporsional. Para pakar dakwah telah
memberi rumusan dakwah yang berbeda antara lain:
a. Pendapat Bakhial
Khauli, dakwah adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam
dengan maksud memindahkan ummat dari suatu keadaan kepada keadaan lain.
b. Pendapat Syekh Ali
Mahfudz, dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan
mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari
perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
c. Pendapat HSM
Nasaruddin Latif, dakwah adalah setiap usaha aktifitas dengan lisan maupun
tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk
beriman dan mentaati Allah swt, sesuai dengan garis-garis aqidah dan syariah
serta akhlak islamiyah.
d. Pendapat aboebakar
Atjeh, dakwah adalah seruan kepada seluruh ummat manusia untuk kembali pada
ajaran hidup sepanjang ajaran allah yang benar.
Berdasarkan defenisi
di atas, maka dapat dirumuskan bahwa dakwah adalah suatu kegiatan yang
dilakukan secara profesional dalam upaya pembentukan pemahaman yang benar
tentang Islam terhadap obyek dakwah yang berakibat dapat membawa perubahan
sikap dan perilaku. Kedudukan dakwah dalam alquran dan sunnah menempati posisi
yang utama, sentral, strategis dan menentukan. Oleh karena itu, dalam
melaksanakan kegiatan dakwah masalah materi maupun metode yang tepat menjadi
masalah yang tidak boleh di abaikan , hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kesalahan operasional dakwah. Dakwah yang dilakukan sering tidak membawa
perubahan apa-apa, pada hal tujuan dakwah adalah mengubah masyarakat sasaran
dakwah ke arah kehidupan yanglebih baik dan lebih sejahtera lahir dan bathin.
1. Makna
Dan Karakter Masyarakat Kota Dan Masyarakat Desa
A. Pengertian Masyarakat Kota.
Sebelum
lebih jauh membahas tentang apa itu masyarakat kota, maka terlebih dahulu akan
di jelaskan tentang pengertian masyarakat dan masyarakat kota. Masyarakat
menurut kamus bahasa Indonesia adalah sejumlah orang dalam kelompok tertentu
yang membentuk perikehidupan yang berbudaya. Sedangkan
masyarakat kota adalah
masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan pusat pemerintahan. Masyarakat
kota terdiri dari beragam suku dan kebanyakan biasanya pendatang.
Weber
(1993:18), misalnya menyatakan bahwa suatu tempat dikatakan kota apabila
penghuni setempat dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar
lokal, sehingga ciri kota menurut Weber adalah adanya pasar serta adanya sistem
hukum dan lain-lain yang tersendiri dan bersifat kosmopolitan.
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat
perkotaan, yaitu :
1. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak
terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan
saja.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya
sendiri tanpa harus
berdantung pada orang lain (Individualisme).
3. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga
lebih tegas dan
mempunyai batas-batas yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan
juga lebih banyak diperoleh warga kota.
5. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota,
mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu
yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang
individu.
6. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab
kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
B.
Pengertian Masyarakat Desa.
Menurut Sapari Imam
Asy’ari, istilah desa dapat diartikan dengan mempertimbangkan aspek-aspek
morfologi, jumlah penduduk, ekonomi, sosial budaya, serta hukum. Dari aspek
morfologi, desa ialah pemanfaatan lahan atau tanah oleh penduduk atau
masyarakat yang bersifat agraris, serta bangunan
rumah yang terpencar. Dari aspek jumlah penduduk desa
didiami oleh sejumlah kecil penduduk dengan kepadatan yang rendah. Sedangkan
dari aspek ekonomi, desa ialah wilayah yang penduduk atau masyarakat yang
bermata pencaharian pokok di bidang pertanian, bercocok tanam, atau nelayan.
Jika dilihat dari aspek sosial budaya, desa tampak dari hubungan sosial antar
penduduknya yang bersifat khas, yakni hubungan kekeluargaan, bersifat pribadi,
tidak banyak pilihan, dan tidak ada pengkotakan, atau dengan kata lain bersifat
homogeny dan gotong royong. Menurut H. Siagian, memberikan pengertian desa
yaitu sebagian daerah yang berada di luar pusat kegiatan pemerintahan atau
daerah perkotaan.
Dari rumusan tersebut di
atas memberikan implikasi bahwa ada desa yang dekat dengan kota, ada desa yang
jauh dari perkotaan. Pembanguan masyarakat desa adalah suatu proses dimana
anggota masyarakat desa adalah suatu proses dimana anggota masyarakat desa
pertama-tama mendiskusikan dan menentukan keinginan mereka, kemudian
merencanakan dan mengerjakan bersama untuk memenuhi keinginan mereka
Secara garis besar,
desa-desa di Indonesia dapat dikategorikan menjadi:
1.
Desa-desa pantai, dimana penduduk desa ini tinggal atau dekat dengan pantai
sehingga mereka sangat bergantung pada pantai atau pesisir laut.
2.
Desa-desa dataran rendah, yakni desa-desa yang berada di daerah daratan rendah,
masyarakatnya leluasa dalam mengatur pola ruang desa atau teritorialnya dari
pada desa-desa yang berada di pegunungan atau pantai.
3.
Desa-desa pegunungan yaitu desa yang penduduknya sangat tergantung dari keadaan
alamnya.
4.
Desa-desa yang berada pada sekitar perkotaan, yang realtif sudah terpengaruh
dengan situasi dan kondisi kota.
5.
Desa-desa pedalaman, yaitu desa-desa yang berada jauh di luar kota dan relatif
terisolasi Masyarakat desa sebagai komunitas (community) bukan berarti
masyarakat (society), tetapi diartikan sebagai manusianya dan berarti kelompok
sosial atau geografisnya. Masyarakat desa sebagai community adalah suatu
kelompok teritorial yang ada di pedesaan dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
hidup di suatu wilayah sesuai dengan tingkat peradabannya
Ciri-ciri community menurut Naldjoeni adalah sebagai
berikut:
1.
Berisi kelompok manusia
2.
Menempati suatu wilayah
geografis.
3.
Mengenal pembagian kerja ke
dalam spesialisasi dngan fungsi-fungsi yang saling tergantung.
4.
Memiliki kebudayaan dan
sistem sosial bersama yang mengatur kegiatan mereka.
5.
Para anggotanya sadar akan
kesatuan serta kewargaan mereka dari community.
6.
Mampu berbuat secara
kolektif menurut cara tertentu
2. Metode
Dakwah Pada Masyarakat Desa
Metode
diartikan sebagai suatu yang di gunakan untuk mengungkapkan cara yang paling
cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu terhadap masyarakat desa. Dalam
hubungannya dengan dakwah, maka metode dakwah berarti cara yang paling cepat
dan tepat dalam melakukan dakwah islam.
Ada
beberapa cara penerapan metode dakwah rasulullah pada masyarakat pedesaan,
yaitu sebagai berikut :
1. Dengan menerapkan metode dan pendekatan struktur dan kultur yang
relevan dengan masyarakat kota dan karakteristiknya yang dinamis, rasional, dan
demokratis.
2. Menerapkan bahasa lisan atau tulisan dengan istilah yang sesuai
dengan pola pikir masyarakat desa tersebut.
3. Menggunakan karya nyata yang betul-betul menyentuh kebutuhan,
dengan memprioritaskan kebutuhan primer.
4. Harus ada penerapan masyarakat desa dalam karya nyata melalui
pendekatan-pendekatan.
5. Kerjasama dengan instansi yang terdapat di desa yang tinggi dan
jangkauan aktivitas dinamis.
Beberapa model metode
pengembangan dakwah pada masyarakat pedesaan, sebagai berikut :
1. Menggunakan pendekatan
bahasa, struktur, dan kultur yang relevan dengan masyarakat pedesaan,
sederhana, dapat dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan.
2. Melalui
pendekatan dan kerjasama dengan tokoh panutannya.
3. Menggunakan bahasa lisan
yang komunikatif dalam penjelasan tentang sesuatu untuk terciptanya kondisi
pemahaman, persepsi, dan sikap.
4. Menggunakan metode
pendekatan karya nyata dengan memprioritaskan kebutuhan yang mendesak dan
menyentuh kebutuhan real masyarakat secara umum.
5. Melalui
pemanfaatan sikap dan karakteristik yang positif yang dimiliki masyarakat
pedesaan yaitu ketaatan, gotong royong, dan kepedulian.
6. Membantu
dalam mencari solusi dari problema sosial, budaya, dan ekonomi yang sedang
dihadapi.
Metode dakwah yang cocok
untuk masyarakat pedesaan, adalah sebagai berikut :
1.
Metode al-hikmah
Kata al-hikmah mengandung
arti yang beragam yang bersifat eksistensi dari pada konsepsi terdapat kata
hikmah tersebut. Cara al-hikmah yaitu suatu cara dalam menyampaikan dakwah
yaitu engan cara yang baik dan benar, yaitu dengan melihat situasi dan kondisi
objek dakwah serta tingkat kecerdasan penerima dakwah dalam masyarakat pedesaan
tersebut.
Pengertian metode dakwah
dengan cara hikmah secara luas meliputi cara atau taktik dakwah terhadap
masyarakat pedesaan yang di perlukan dalam menghadapi golongan cerdik pandai,
golongan awam, dan semua golongan atau lapisan masyarakat pedesaan.
2.
Metode al-mau’izatil
hasanah
Dakwah dengan pelajaran
yang baik, di pahami oleh banyak pakar dan penulis kajian ilmu dakwah pada
sudut pemahaman yaitu kemampuan juru dakwah dalam memilih materi dakwah itu
sendiri.
Dengan cara memberi
pengajaran yang baik atau nasehat yang baik, bahwa dakwah yang mampu meresap ke
dalam hati dengan halus dan merasuk ke dalam perasaaan dengan lemah lembut,
tidak bersikap memarahi atas kesalahan-kesalahan penerima dakwah.
3.
Metode al-mujadalah
Kata al-mujadalah berarti
perdebatan dan pembantahan. Metode dakwah dengan cara al-mujadalah yaitu dengan
cara memberi bantahan atau perdebatan dengan cara yang baik terhadap masyarakat
pedesaan.
3. Metode Dakwah Pada Masyarakat Kota
strategi
dakwah terhadap Individualisme dan Materialisme pada masyarakat perkotaan.
Masyarakat kota merupakan masyarakat yang telah maju dalam berbagai bidang,
sehingga perlu ada filterisasi pola hidup yang cenderung Individualisme dan
Materialisme, sehingga perlu ada langkah-langkah kongkrit dakwah yang harus
dilakukan dalam menghadapi serbuan pola hidup individualisme dan materialisme
yang dibangun dari kacamata keislaman. Langkah-langkah tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Melakukan dakwah
dengan pendekatan persuasif dan inovatif Pedekatan persuasif dimaksudkan
sebagai upaya memasukkan ajaran agama selaras dengan kepentingan masysrakat.
Artinya dai harus mampu memahami mad‟umya. Jika dikaitkan dengan tipologi
masyarakat pada umumnya, dapat diutarakan bahwa masyarakat kota dikategorikan
sebagai asyarakat inovatif, karena umumnya mereka senantiasa berfikir ke depan.
Teknik pelaksanaan dakwahnya lebih ditekankan kepada cara yang sesuai bagi
situasi masyarakat kota. Dalam hal ini lebih sesuai apabila menggunakan media
dakwah yang relevan dengan kesibukan masyarakat kota.
2. Mulai Dari Diri
Sendiri Dalam konteks Al-Qur‟an Allah ajarkan manusia untuk mulai dari diri sendiri
kenudian terhadap orang lain dalam berbagai hal, agar orang yang akan diajak
dapat melihat bagaimana konsistensi antara ucapan dan perbuatan kita.
3. Membudayakan Sikap
Qona’ah Sikap qona’ah (rela dan menerima pemberian Allah SWT) adalah sikap yang
sangat dibutuhkan oleh setiap insan. Sikap qona’ah ini seharusnya dimiliki oleh
orang yang kaya maupun orang miskin. Tidak iri melihat apa yang ada di tangan
orang lain, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, serta tidak rakus
mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara. Sehingga dengan semua itu
akan melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Sikap qona’ah inilah yang telah
diajarkan oleh Rasulullah saw. Ketika awal-awal Islam disebarkan di Mekah dan
Madinah.” Qona’ah merupakan sikap terpuji yang harus dibiasakan. Walaupun
terkadang sangat berat untuk dilakukan, namun bagi siapa saja yang berusaha dan
berlatih, secara terus menerus. Karena sifat manusia tersebut telah digambarkan
oleh Allah SWT.
4. Melakukan Dakwah
moderat dan kontekstual Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan
teknologi yang banyak mempengaruhi persepsi dan kebutuhan manusia dakwah Islam
harus melakukan evaluasi diri dan penyusunan strategi agar tetap aktual dan
kontekstual yang bisa dijadikan sebuah alternatif solusi terhadap berbagai
problem serta tantangan kehidupan yang semakin bertumpuk. Dalam meletakkan
prioritas solusi alternatif itu, kita harus mengacu pada struktur bangunan
dakwah yang bagus berdasarkan analisis dan kemampuan untuk melakukan terapi
yang tepat.di samping itu para muballigh juga harus senantiasa memperbaharui
isi dan penampilan dakwahnya dan jalan yang bisa dilakukan adalah dengan iqra’
banyak membaca.
5. Pengendalian Diri
Berbagai tindakan yang menyimpang dalam kehidupan dunia ini, tidak akan dapat
diberantas begitu saja tanpa adanya keinginan untuk pengendalian diri untuk
melakukan berbagai tindakan yang menyimpang dari ajaran agama begitu halnya
dalam konteks individualisme dan materialisme, karena secara naluri kemanusiaan
manusia telah diberikan kecenderungan untuk mencintai harta, tahta dan wanita.
6. Melaksanakan
dakwah yang berparadigma transformatif dan urgen. Orientasi dakwah harus lebih
mengedepankan perbaikan kualitas keimanan individual dengan tekanan hanya pada
ketaatan menjalankan ritual keagamaan telah mengabaikan satu dimensi penting
dalam dakwah. Dimensi dakwah yang terabaikan tersebut adalah pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat Islam secara menyeluruh. Keterbelakangan,
ketertinggalan dan keterpinggiran umat Islam dari percaturan (peradaban) global
dewasa ini adalah beberapa realitas yang kurang tersentuh dalam materi dakwah.
Dalam pengertian bukan dakwah yang materi pembicaraannya hanya sekedar
menggerutu, mengumpat dan menyalahkan umat atau orang lain yang menjadikan
Islam mundur, tetapi dakwah dimaknai secara lebih luas dengan tekanan pada
perbaikan kualitas sosial, pendidikkan dan ekonomi masyarakat. Islam sendiri
sering disebut sebagai agama pembebas, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi
dan generasi awal Islam dalam merealisasikan dakwah dalam pengertian seperti
ini. Yakni dakwah yang mampu menstransformasikan nilai-nilai Islam untuk
kemaslahatan umat manusia secara lebih luas.
Hasil
Mini Riset
Dari
penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa metode pengembangan dakwah di pedesaan
dan perkotaan memiliki beberapa perbedaan. Salah satu yang kami temukan
mengenai perbedaan khutbah sholat jumat di masjid ajung dan masjid daerah
kaliwates. Perbedaan tersebut adalah di masjid ajung hanya menggunakan rukun
rukun khutbah saja tanpa menggunakan isi khutbah, sedangkan di masjid kaliwates
menggunakan rukun sekaligus menggunakan isi khutbah dengan bahasa Indonesia.
Khutbah
sholat jumat di masjid ajung memiliki problematika dalam hal: Masyarakat tidak
mendapatkan kajian dakwah ketika sholat jumat, namun disisi lain khutbah jumat
terkesa singkat dan ringkas karena hanya menggunakan rukun khutbah saja. Dalam
masalah ini masjid ajung tidak memenuhi kriteria metode pengembangan dakwah di
pedesaan pada point ke 3 yaitu Menggunakan
karya nyata yang betul-betul menyentuh kebutuhan, dengan memprioritaskan
kebutuhan primer. Karena tidak ada bentuk nyata adanya kajian dalam bentuk
khutbah.
Komentar
Posting Komentar